Sebanyak 27 emiten LQ45 yang telah merilis laporan keuangan hingga akhir Juli 2010 membukukan laba bersih Rp 40,37 triliun, naik 26% dibanding perolehan semester I-2009 sebesar Rp 32,07 triliun.
Emiten sektor perbankan memberi kontribusi terbesar, yaitu Rp 14.65 triliun atau setara 36.13%. Posisi berikutnya diduduki emiten sektor industri barang konsumsi yang menyumbang sebesar Rp 10,56 triliun atau 26,14%. Adapun emiten sektor infrastruktur mendatangkan laba bersih Rp 6,65 triliun yang setara 16,46% dan emiten perdagangan menyumbang Rp 2,19 triliun atau 5,42%.
Sementara itu, emiten pertambangan baru memberi kontribusi sebesar Rp 2,08 triliun atau 5,15% dari laba bersih. Selama ini, 12 emiten pertambangan merupakan kontributor terbesar laba bersih LQ45. Hingga 31 Juli 2010, tujuh emiten tambang belummemublikasikan laporankeuangan, antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMD.
Berdasarkan kinerja keuangan perseroan. PT Astra International Indonesia Tbk (ASU) menduduki peringkat pertama emiten yang membukukan nominal laba bersih terbesar, yaitu Rp 6,44 triliun. Laba perusahaan otomotif terbesar di Tanah Air itu melonjak 52%dibandingkan periode sama 2009 sebesar Rp 4,24 triliun.
Kenaikan laba bersih Astra hingga 30 Juni 2010 tersebut ditopang oleh peningkatan laba usaha. Astra berhasil mencetak laba usaha se nilai Rp" 6,67 triliun atau naik 13.3% dibandingkan periode sama 2009 sebesar Rp 5,89 triliun.
Astra berhasil memaksa PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk (TLKM) duduk di peringkat kedua dengan raihanlaba bersih Rp 6 triliun. Kinerja keuangan Telkom turun tipis 0,66% dari realisasi semester I-2009 sebesar Rp 6.04 triliun.
Kinerja keuangan cukup mencengangkan justru ditampilkan PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID). Emiten sektor aneka industri tersebut meraih kenaikan persentase laba bersih tertinggi, yaitu 11 ribuan persen. Pada semester 1-2010. Delta Dunia mencatatkan laba bersih sebesar Rp 206.18 miliar, dari periode sebelumnya yang rugi bersih Rp 1,76 miliar.
Padahal, Bursa Efek Indonesia (BEO baru menetapkan Delta Dunia masuk dalam perhitungan indeks LQ45 periode Agustus 2010-Januari 2011 tx-rsama luna emiten lainnya pada 30 Juli 2010. Kelima emiten tersebut adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI). PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). T Global Mediacom Tbk (BMTR). PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPD, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Keenam emiten baru anggota LQ45 tersebut menggusur enam emiten lama yang performanya dinilai BEI kurang berkilau. Kecuali itu, aktivitas perdagangan saham enam emiten tersebut juga dinilai kurang prima.
Enam emiten yang terpaksa harus menyingkir dari indeks LQ45 peridoe Agustus 2010-Januari 2011 itu adalah PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Mitra International Resources Tbk (MIRA),PTBisi International Tbk (BISI), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), serta PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP).
Sementara itu, sejumlah perusahaan yang terafiliasi Grup Bakrie yang beada dalam dalam LQ45- minus Bakrieland-hingga akhir Juli 2010 belum memublikasikan laporan keuangan. Emiten yang belum merilis kinerjanya finansialnya ke publik tersebut adalah Bumi Resources, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), Darma Henwa, dan PT Bakrie Brothers Tbk (BBNR).
Mengesankan
Kalangan analis menilai kinerja mayoritas emiten LQ45 pada semester 1-2010 sangat mengesankan. Sektor perbankan dan pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar positifnya kinerja emiten pada separuh pertama tahun ini. Kedua sektor ini masih akan membuat saham LQ45 semakin likuid, apalagi indeks harga saham gabungan (IHSG) terus meroket di atas 3.000 sejak pekan lalu.
Di sisi lain, masuknya enam emiten baru menggantikan enam emiten lama dalam jajaran indeks LQ45 memberi nilai positif. Pasalnya, keenam emiten baru tersebut diperdagangkan secara aktif dan mayoritas kinerja keuangannya dinilai cukup menjanjikan.
Demikian pandangan analis Info-vesta Utama Praska Putrantyo, analis Waterfront Securities Isfhan Helmy Arsad, dan analis Panin Securities KaMn lie kepada Investor Daily secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.
Praska menilai, emiten LQ45 akan menopang pergerakan IHSG pada semester 11-2010. Pada perdagangan Jumat (30/7), indeks ditutup melemah 27,54 poin (0,89%) ke level 3069,28. Sementara itu, indeks LQ45 melemah 6.911 poin (1.16*) ke level 589,92 setelah terus menerus menciptakan rekor tertingginya sejak awal pekan.
Menurut dia, rontoknya saham ASH memberi kontribusi besar bagi luruhnya IHSG. Sebelumnya, rekor tertinggi IHSG dipegang pada perdagangan Kamis (29/7), saat
IHSG sempat menembus rekor tertinggi intraday level 3097,19 sebelum akhirnya ditutup pada level 3096,82.
Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing menilai, harga saham Astra berpotensi menguat ke Rp 55.000 hingga akhir 2010. Pasalnya, kondisi perekonomian dalam negeri tahun ini diperkirakan terus membaik.
Menurut Pardomuan, kinerja Astra International pada paruh pertama tahun ini bagus karena peningkatan penjualan mobil sebagai bisnis inti perseroan. Selain itu, mon-cernya kinerja Astra dipicu daya beli masyarakat yang tinggi, karena tingkat suku bunga rendah. "Kondisi tersebut mendorong perusahaan multifinance agresif meningkatkan pembiayaan kendaraan bermotor," kata dia.
Isfhan Helmy Arsad menilai, pada semester II kinerja LQ45 akan banyak ditopang sektor perbankan. Bank pelat merah masih akan memberi kontribusi besar terhadap laba bersih indeks LQ45. Hal ini dibuktikan pada semester 1-2010 saat BRI mencatatkan laba bersih Rp 4,32 triliun. -l-juga bakal memberi kontribusi besar bagi BUMN, apalagi di LQ45 ada Antam, Timah, dan Semen Gresik yang belum memublikasikan laporan keuangan," ujar dia.
Kalvin mencermati tujuh emiten kelompok usaha Bakrie yang mayoritas belum memublikasikan laporan keuangan. Kendati begitu, dia yakin, enam perusahaan Bakrie tersebut memiliki kinerja keuangan cukup bagus.
Hal itu diperlihatkan Bakrieland, salah satu anak usaha Grup Bakrie yang membukukan kinerja keuangan positif. Pada semester I-2010, Bakrieland membukukan pendapatan bersih Rp 537,5 miliar atau naik 45,74% dibanding periode yang sama 2009 sebesar Rp 368,8 miliar.
Sementara itu, laba bersih perseroan juga menggeliat dari Rp 56,9 miliar menjadi Rp 63 miliar. Laba operasi pada enam bulan pertama tahun ini meningkat 27,03% menjadi Rp 81,3 miliar dari sebelumnya Rp 64 miliar. Demikian juga total aset perseroan naik 46,34% dari Rp 8,2 triliun menjadi Rp 12 triliun.
Direktur Utama Bakrieland Hiramsyah Sambudhy Thaib optimistis, target pendapatan perusahaan pada akhir 2010 sebesar Rp 1,3 triliun dapat tercapai. Pendapatan pada semester II diproyeksikan bakal lebih tinggi daripada semester I.
"Peningkatan penjualan secara kuartal menunjukkan tren positif dan berpotensi untuk berlanjut mengingat tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank berpotensi turun," ujar dia.