Harga minyak dunia kembali meningkat pada Jumat (29/4), hal ini diakibatkan melemahnya dolar dan ketidakstabilan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah.
Sweet crude AS pada Juni mengalami penurunan US$1,07 menjadi US$113,93 per barel, setelah sebelumnya US$114,18 per barel. Minyak mentah jenis Brent, untuk Juni naik 83 sen ke US$125,85 per barel. Pada 2011 Brent mencapai puncaknya yaitu US$127,02 pada 11 April 2011.
Dengan kenaikan harga minyak mentah dunia ini telah memicu lambatnya pertumbuhan ekonomi AS dan ketidak pastian persediaan bahan bakar. "Akibatnya, minyak akanterus dihargai sebagai aset atau lindung nilai bersama dengan komoditas lain seperti emas," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch & Associates di Clena Illinois yang dikutip dari yahoo.finance.com.
Menurut data, baik Brent maupun minyak mentah AS, telah siap untuk delapan bulan ke depan. Harapannya adalah pemerintah federal AS dapat mempertahankan kebijakan moneter, demi mendorong investor ke sektor komoditi, dan perbaikan nilai tukar dolar.
Kenaikan harga minyak bisa menaikkan volume perdagangan, yang menurut perkiraan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Laporan terpisah menunjukkan aktifitas di pabrik AS Midwest menganggap kenaikan harga minyak ini hanya sementara. Keluhan tentang tingginya harga, sudah terjadi sejak 2008 dan hampir separuh dari masyarakat mengatakan ekonominya semakin memburuk seiring naiknya harga minyak. [hid]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar