Selasa, 19 April 2011

saham garuda bakal terbang

Kabar baik yang dilansir Menneg BUMN dan manajemen Garuda, ternyata, tak mampu mengangkat harga saham PT Garuda Indonesia (GIAA). Tapi investor institusi optimistis, saham ini akan kembali ke harga IPO di akhir tahun.
Hal itu diungkapkan oleh seorang direktur BUMN yang telah membeli saham GIAA dalam jumlah banyak di pasar perdana, 11 Februari 2011. Menurut dia, seiring dengan berbagai aksi korporasi yang dilakukan manajemen, kinerja maskapai penerbangan ini pasti akan membaik.
Kondisi pemulihan tersebut otomatis akan mendongkrak harga sahamnya. “Paling tidak, di akhir tahun GIAA bisa mencapai Rp850,” kata sang direktur yang dikenal publik sebagai pakar pasar modal ini.
Nah, jika angka ini tercapai, investor dipastikan akan melepas saham mereka. Sebab, harga tersebut bukan hanya membuat modal yang telah ditanamkan kembali utuh, tapi juga sudah disertai ‘bunga;’ yang memadai.
Itu sebabnya, sumber ini menyarankan agar investor yang biasa bermain dalam jangka menengah, segera mengoleksi GIAA. Sementara untuk pemodal yang memiliki horison jangka pendek, disarankan membeli ketika harga menyentuh Rp520. “Jangan serakah, begitu ada gain 2-3% langsung lepas,” ujarnya.
Harapan untuk meraih gain dari saham maskapai ini, tampaknya, bukan sekadar mimpi. Sebab, pemerintah dan manajemen Garuda kini tengah bekerja ekstraserius untuk mengangkat kinerja perseroan.
Untuk membuat kinerja keuangan perushaan menjadi kinclong, misalnya, tak lama lagi manajemen akan melakukan kuasi reorganisasi. Sehingga, dengan adanya revaluasi aset , beban usaha yang harus ditanggung menjadi lebih ringan.
Jika aksi korporasi ini berhasil, ditambah dengan aksi korporasi lainnya seperti penambahan armada, diharapkan keuntungan bersih yang diperoleh maskapai akan meningkat 100% di tahun ini. Jadi, kalau tahun lalu laba bersih Garuda sebesar Rp515, di akhir 2011 akan mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Nah, rencana-rencana besar itulah yang membuat pemerintah optimistis terhadap peningkatan kinerja BUMN ini. Bahkan, seperti dikemukakan di atas, Menneg BUMN berusaha meyakinkan pasar bahwa tahun depan GIAA akan membagikan dividen.
Hanya saja, entah kenapa, sentimen positif ini tidak segera mendapat respon dari pasar. Itu terlihat dari harga sahamnya yang tak pernah jauh di level Rp520-540 per lembarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar