Kenaikan IHSG pada pekan lalu karena memiliki katalis berupa kenaikan harga emas, timah dan minyak dunia yang masing-masing berada level tertinggi.
Dari hasil riset E Trading disebutkan faktor-faktor yang menjadi katalis bagi pergerakan IHSG pada perdagangan pekan lalu (4 April - 8 April) antara lain diwarnai oleh meroketnya harga-harga komoditas seperti emas dan timah yang mencetak rekor harga tertingginya sepanjang sejarah dan Kenaikan peringkat utang Indonesia dari ‘BB” menjadi ‘BB+’ oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Ratings (S&P).
Harga emas naik 1% menjadi US$1.474,80 per ons dari US$1,471 per onskemudian naik 1% pada penutupan Jumat kemarin. Perak juga mengalami kenaikan 2,4% menjadi US$40,50 per ons. Harga emas ini mencapai rekor tertinggi untuk hari keempat berturut-turut. Hal ini seiring dolar yang melemah. Penyebabnya, karena kekhawatiran inflasi mengangkat logam mulia secara menyeluruh.
Akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat sebesar 34,42 poin (0,93%) ke level 3707.11. Sementara indeks LQ45 ditutup melemah sebesar 4,62 poin (0,69%) ke level 669,60.
Indeks sektoral yang mengalami kenaikan terbesar sepanjang perdagangan pekan lalu adalah sektor konstruksi dan properti yang ditutup menguat sebesar 5,62 poin (2,90%) ke level 199,61. Sementara sektor yang mengalami pelemahan terbesar adalah sektor macam-macam industri yang ditutup melemah sebesar 12,46 poin (1,22%) ke level 1.006,42.
Investor asing pada perdagangan minggu lalu membukukkan akumulasi pembelian bersih (foreign net buy) sebesar Rp15,197 triliun, terdiri dari akumulasi pembelian sebesar Rp22,241 triliun dan akumulasi penjualan sebesar Rp7,045,02 triliun. Tetapi, besarnya pembelian asing pada minggu ini disebabkan adanya transaksi penjualan anak usaha PT Berau Coal Energy ke Vallar PLC sebesar Rp14,1 triliun.
Dari hasil riset E Trading disebutkan faktor-faktor yang menjadi katalis bagi pergerakan IHSG pada perdagangan pekan lalu (4 April - 8 April) antara lain diwarnai oleh meroketnya harga-harga komoditas seperti emas dan timah yang mencetak rekor harga tertingginya sepanjang sejarah dan Kenaikan peringkat utang Indonesia dari ‘BB” menjadi ‘BB+’ oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Ratings (S&P).
Harga emas naik 1% menjadi US$1.474,80 per ons dari US$1,471 per onskemudian naik 1% pada penutupan Jumat kemarin. Perak juga mengalami kenaikan 2,4% menjadi US$40,50 per ons. Harga emas ini mencapai rekor tertinggi untuk hari keempat berturut-turut. Hal ini seiring dolar yang melemah. Penyebabnya, karena kekhawatiran inflasi mengangkat logam mulia secara menyeluruh.
Akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat sebesar 34,42 poin (0,93%) ke level 3707.11. Sementara indeks LQ45 ditutup melemah sebesar 4,62 poin (0,69%) ke level 669,60.
Indeks sektoral yang mengalami kenaikan terbesar sepanjang perdagangan pekan lalu adalah sektor konstruksi dan properti yang ditutup menguat sebesar 5,62 poin (2,90%) ke level 199,61. Sementara sektor yang mengalami pelemahan terbesar adalah sektor macam-macam industri yang ditutup melemah sebesar 12,46 poin (1,22%) ke level 1.006,42.
Investor asing pada perdagangan minggu lalu membukukkan akumulasi pembelian bersih (foreign net buy) sebesar Rp15,197 triliun, terdiri dari akumulasi pembelian sebesar Rp22,241 triliun dan akumulasi penjualan sebesar Rp7,045,02 triliun. Tetapi, besarnya pembelian asing pada minggu ini disebabkan adanya transaksi penjualan anak usaha PT Berau Coal Energy ke Vallar PLC sebesar Rp14,1 triliun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar